Monolog Part 4 : What If.. Hanya Ada Rasa Bahagia?

“Mungkin sebuah rasa hanya bisa kita kenali karena kita pernah merasakan yang lainnya.”

Beberapa waktu lalu, aku sedang dalam perjalanan pulang dari kantor bersama abangku naik motor.

Di perjalanan, aku melihat langit senja yang begitu indah.

Dan di momen yang sebenarnya biasa saja itu, tiba-tiba aku merasa bahagia.

Tidak ada sesuatu yang istimewa terjadi.

Aku hanya sedang duduk di belakang motor, melihat langit, dan merasa.. bahagia.

Lalu sebuah pertanyaan terlintas di kepalaku.

“What if.. kalau di dunia ini hanya ada perasaan bahagia?”

Tidak ada sedih.

Tidak ada kecewa.

Tidak ada marah.

Tidak ada takut.

Tidak ada patah hati, kehilangan, kesepian, atau perasaan-perasaan tidak menyenangkan lainnya.

Hanya ada bahagia.

Hemm..

Kedengarannya menyenangkan, ya?

Siapa juga yang tidak mau hidup seperti itu?

Tidak perlu tahu rasanya menangis karena seseorang. Tidak perlu takut kehilangan.Tidak perlu kecewa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Setiap hari, sepanjang hidup, kita hanya akan merasa bahagia.

Tapi kemudian aku berpikir lagi.

Kalau bahagia adalah satu-satunya perasaan yang pernah kita kenal, bagaimana kita tahu bahwa itu bahagia?

Bayangkan kita lahir di dunia seperti itu.

Sejak kecil, kita tidak pernah mengenal perasaan lain.

Kita tidak tahu apa itu sedih karena tidak pernah mengalaminya.

Kita tidak tahu apa itu kecewa.

Takut.

Marah.

Kesepian.

Mungkin kata-kata itu bahkan tidak pernah ada.

Tapi kalau begitu..

Apakah kata “bahagia” juga akan ada?

Untuk apa kita menyebut sesuatu “bahagia” kalau kita tidak pernah mengenal keadaan ketika kita tidak bahagia?

***

Awalnya aku sempat berpikir, mungkin kita memang membutuhkan kesedihan supaya bisa merasakan kebahagiaan.

Tapi rasanya bukan itu juga.

Aku tidak merasa kita harus patah hati dulu untuk bisa bahagia. Tidak harus kehilangan seseorang. Tidak harus mengalami sesuatu yang menyakitkan.

Mungkin kita hanya perlu pernah tahu rasanya tidak bahagia.

Dan tidak bahagia tidak selalu berarti sedih.

Kadang hanya hari yang menyebalkan.

Kadang sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan.

Kadang kita merasa kosong.

Kadang semuanya baik-baik saja, tapi rasanya.. biasa saja.

Lalu suatu hari, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Kita tertawa lebih lepas.

Menikmati sebuah percakapan.

Melakukan sesuatu yang kita suka.

Atau mungkin tidak terjadi apa-apa.

Hari itu hanya terasa menyenangkan.

Dan kita tahu:

“Oh.. ternyata ini rasanya bahagia.”

***

Lalu pikiranku mulai berjalan lebih jauh.

Kalau manusia tidak pernah merasa takut, apakah kita akan mengenal keberanian?

Kalau tidak pernah kecewa, apakah kita akan mengenal harapan?

Kalau tidak pernah kehilangan, apakah kita akan tahu bagaimana rasanya menghargai sesuatu ketika masih memilikinya?

Dan kalau tidak pernah terluka, apakah kita bisa benar-benar memahami seseorang yang sedang terluka?

Entahlah.

Mungkin bisa.

Mungkin juga pertanyaan-pertanyaan itu tidak relevan sama sekali di dunia yang hanya berisi kebahagiaan, karena tidak akan ada apapun yang perlu kita hadapi, lawan, atau terima.

Anehnya, semakin lama membayangkan dunia itu, semakin dunia yang awalnya terdengar sempurna terasa asing bagiku.

***

Lalu ada satu pikiran lain yang muncul.

Mungkin masalahnya bukan cuma soal kita tidak akan bisa mengenali rasa itu.

Aku malah jadi bertanya-tanya, kalau bahagia ada terus-menerus, apakah lama-lama ia masih terasa seperti sebuah rasa?

Karena selama ini perasaan kita selalu berubah.

Ada hari ketika kita senang.

Ada yang biasa saja.

Ada juga hari yang rasanya ingin cepat-cepat selesai.

Dan mungkin justru karena pernah berada di rasa yang berbeda-beda itu, kita bisa sadar ketika suatu hari ada sesuatu yang terasa lebih menyenangkan.

Tapi kalau dari awal sampai akhir hidup kita hanya mengenal satu rasa yang sama..

Apa kita masih akan merasakannya?

Atau mungkin lama-lama bahagia hanya akan menjadi sesuatu yang biasa.

Seperti udara.

Ada.

Tapi kita tidak lagi menyadarinya.

***

Aku kemudian kembali bertanya pada diriku sendiri.

Kalau benar-benar diberi pilihan untuk hidup seperti itu, bahagia 100%, tanpa kecewa, tanpa patah hati, tanpa kehilangan. Apakah aku mau?

Seharusnya jawabannya mudah.

Tapi ternyata.. Aku tidak mau.

Bukan karena aku menyukai kesedihan.

Please.

Kalau boleh memilih, tentu ada banyak rasa tidak menyenangkan dalam hidup yang ingin kulewati saja.

Tapi buat apa aku merasakan kebahagiaan sepanjang hidup kalau aku bahkan tidak tahu bahwa aku sedang bahagia?

Dan ketika kupikirkan lagi, aku sadar kalau rasa bahagia selama ini juga sering datang se-random itu.

Aku bahkan kesulitan mengingat kapan terakhir kali aku berhenti di tengah sebuah momen dan berpikir..

“Oh, aku sedang bahagia.”

Kadang aku baru menyadarinya setelah tertawa tanpa sadar.

Kadang ketika sedang melakukan sesuatu yang kusukai.

Kadang di tengah percakapan biasa.

Kadang di perjalanan pulang.

Kadang tidak ada sesuatu yang istimewa sama sekali.

Hanya ada satu momen kecil ketika hidup terasa.. menyenangkan.

Lalu selesai.

Mungkin besok aku akan kesal lagi.

***

Hahaha.

Lucu ya.

Semua ini berawal dari sebuah pertanyaan yang terdengar sangat sederhana.

“What if.. kalau di dunia ini hanya ada perasaan bahagia?”

I don’t know.

What do you think?

 

Cheers (even if it’s bitter),

—TDS

(One sunset, one happy feeling, too many questions.)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Threads
Share on WhatsApp
Related posts
Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment