Monolog Part 2 : Hidup yang Kita Jalani Hari Ini, Katanya Doa Kita yang Dulu

“Ada kalimat-kalimat yang terdengar indah ketika dibaca, tapi terasa berbeda ketika dipikirkan lebih lama.”

Kemarin aku membaca satu kalimat di IG Story seseorang. Entah dia sedang membahas apa, tapi satu kalimat itu langsung membuatku berfikir lama untuk mencernanya.

Katanya:

“Hidup yang kita jalani hari ini adalah hidup yang dulu kita doakan.”

Kalimat itu terdengar indah. Hampir seperti pengingat sederhana untuk kita bersyukur.

Seolah hidup yang kita jalani sekarang adalah jawaban dari harapan-harapan yang dulu pernah kita panjatkan.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

Lalu tanpa sadar mulai bertanya pada diriku sendiri:

“Benarkah hidup yang kita jalani hari ini benar-benar doa yang pernah kita panjatkan dulu?”

Realitanya, tidak ada orang yang berdoa untuk kegagalan.

Tidak ada yang bangun di suatu malam lalu berdoa,

“Tuhan, semoga suatu hari aku gagal.”

Kalau ada yang pernah berdoa seperti itu.. mungkin kita perlu ngobrol sebentar.

Haha.

Tidak ada yang berharap untuk merasakan kehilangan.

Tidak ada yang meminta hidupnya berbelok ke arah yang tidak pernah direncanakan.

Dan kalau aku mencoba menarik hidupku sedikit ke belakang, lalu mengingat perjalanan yang sudah pernah terjadi.. rasanya aku tidak pernah ingat pernah meminta semua hal itu terjadi.

***

Tidak semua hal dalam hidup pernah kita doakan

Setidaknya itu yang kupikirkan saat pertama kali membaca kalimat tersebut.

Namun setelah dipikirkan lebih lama lagi, aku mulai bertanya pada diriku sendiri.

Benar, tidak semua hal pernah kita doakan.

Tapi bagaimana jika beberapa di antaranya adalah jawaban dari doa-doa lain yang sudah kita lupakan?

Doa agar dijauhkan dari hal-hal yang buruk.

Doa agar dijaga dari orang-orang yang tidak baik untukku.

Doa agar langkahku diarahkan ke jalan yang benar.

Doa-doa yang mungkin pernah kupanjatkan dengan sungguh-sungguh, lalu terlupakan begitu saja ketika hidup terus berjalan.

Lalu bagaimana jika beberapa kehilangan yang pernah kusesali sebenarnya adalah jawaban dari doa-doa itu?

Bagaimana jika seseorang yang pergi dari hidupku bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang perlindungan?

Mungkin itulah bagian yang paling sulit diterima.

Bahwa sesuatu yang terasa seperti kehilangan, bisa jadi merupakan jawaban dari doa yang pernah kita panjatkan.

***

Hidup Tidak Sesederhana Sebuah Kalimat

Manusia memang suka menyederhanakan hidup lewat kalimat-kalimat yang terdengar indah. Karena hidup yang sebenarnya seringkali terlalu rumit untuk dijelaskan.

Quote motivasi selalu terdengar rapi.

Tapi hidup jarang berjalan serapi itu.

Mungkin bukan kalimatnya yang salah.

Mungkin hanya saja hidup manusia terlalu luas untuk dijelaskan dengan satu kalimat seperti “hidup hari ini adalah doa kita yang dulu.”

***

Hidup Lebih Mirip Rangkaian Pilihan

Karena kenyataannya, hidup bukan hanya tentang doa yang dikabulkan.

Kita dilahirkan karena pilihan orang tua kita. Kita tumbuh dengan pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap hari.

Memilih sekolah.

Memilih teman.

Memilih percaya pada seseorang.

Memilih mengambil suatu kesempatan.

Dan seiring waktu, pilihan-pilihan itu mulai saling terhubung, membentuk jalan hidup yang kita jalani hari ini.

Kadang pilihan itu membawa kita ke tempat yang kita harapkan.

Kadang juga tidak.

Kadang kita membuat pilihan dengan keyakinan penuh, tapi ternyata jalan yang terbuka justru berbeda dari yang kita bayangkan.

Dan anehnya, bahkan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup pun seringkali tetap memiliki jejak pilihan di dalamnya.

Bukan kebetulan.

Melainkan rangkaian keputusan yang akhirnya membawa kita sampai di titik tertentu.

Bukan berarti kita harus menyalahkan diri sendiri atas semua hal buruk yang pernah terjadi.

Tapi mungkin ini hanya cara hidup mengingatkan bahwa perjalanan manusia memang tidak pernah sepenuhnya rapi.

***

Jadi ketika seseorang mengatakan bahwa hidup yang kita jalani hari ini adalah hidup yang dulu kita doakan, aku masih belum sepenuhnya bisa percaya.

Tapi aku juga tidak lagi bisa menentangnya.

Bukan karena aku tidak bersyukur.

Justru sebaliknya.

Aku sangat bersyukur untuk banyak hal dalam hidupku.

Tapi bersyukur tidak berarti kita harus berpura-pura bahwa semua yang terjadi dalam hidup adalah sesuatu yang pernah kita minta.

Ya.

Beberapa hal memang kita harapkan.

Beberapa hal kita perjuangkan.

Beberapa hal lahir dari pilihan-pilihan yang kita buat.

Dan beberapa lainnya mungkin adalah jawaban dari doa-doa yang pernah kita panjatkan, meskipun bentuknya tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Karena pada akhirnya hidup mungkin bukan tentang semua doa yang selalu terkabul.

Dan mungkin juga bukan hanya tentang pilihan-pilihan yang kita buat.

Hidup adalah pertemuan keduanya.

Tentang pilihan yang kita ambil.

Tentang jalan yang terbentuk karenanya.

Dan tentang jawaban-jawaban yang diberikan Tuhan dengan cara yang tidak selalu kita pahami.

 

Cheers (even if it’s bitter),

—TDS

(Masih belajar memahami bahwa tidak semua doa dijawab dengan apa yang kita inginkan. Kadang dijawab dengan apa yang kita butuhkan.)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Threads
Share on WhatsApp
Related posts
Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment