Pagi ini aku duduk di coffee shop favoritku. Di depanku ada segelas latte hangat, sepotong brownies manis, dan jurnal yang halamannya perlahan mulai terisi.

Awalnya aku hanya ingin menikmati pagi yang ringan. Duduk manis, menyeruput kopi, menulis apa pun yang sedang lewat di kepala. Tapi entah kenapa, di tengah momen yang sederhana ini, pikiranku berhenti di satu hal:

Besok aku genap 35 tahun.

Rasanya… aneh.

Bukan aneh yang buruk. Tapi juga bukan perasaan yang bisa langsung aku jelaskan dengan satu kata. Ada sedikit haru, sedikit bingung, sedikit tidak percaya, dan mungkin sedikit rasa ingin memeluk diri sendiri.

Mungkin karena aku baru sadar, ternyata aku sudah sejauh ini. Melewati banyak hal dengan segala bingungnya, capeknya, sok kuatnya, bahkan di hari-hari ketika aku sendiri tidak selalu merasa kuat saat menjalaninya.

Karena ternyata, sampai di usia ini, aku masih belum punya semua jawabannya.

Dulu, mungkin aku membayangkan usia 35 akan terasa lebih pasti. Seolah di usia ini hidup sudah lebih tertata, hati sudah lebih tenang, pilihan sudah lebih jelas, dan diri sendiri sudah sepenuhnya paham harus berjalan ke mana.

Tapi hari ini, sambil menatap latte yang mulai berkurang dan jurnal yang belum selesai kutulis, aku sadar satu hal: mungkin menjadi dewasa bukan berarti semua hal harus sudah selesai. Mungkin menjadi dewasa justru tentang berani mengakui bahwa kita masih belajar.

Apa iya?

Masih belajar memahami diri sendiri.
Masih belajar membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya ramai di kepala.
Masih belajar memberi ruang, tapi juga tidak kehilangan arah.
Masih belajar kuat, tanpa harus selalu terlihat baik-baik saja.

Aku tahu, kalimat-kalimat itu terdengar klise. Kayak sesuatu yang sering muncul di tulisan motivasi atau caption panjang di Instagram. Tapi hari ini, ya memang itu yang paling pas untuk menggambarkan semuanya.

Dan mungkin, ya itu nggak apa-apa.

Kalau aku melihat ke belakang, ada banyak versi diriku yang pernah hidup sebelum sampai di titik ini.

Ada aku yang terlalu sering berusaha mengerti orang lain.
Ada aku yang terbiasa terlihat kuat, bahkan saat sebenarnya sedang lelah.
Ada aku yang diam-diam memikirkan banyak hal, tapi tetap menjalani hari seperti biasa.
Ada aku yang kadang memberi ruang terlalu banyak untuk diri sendiri, sampai bingung harus mulai dari mana.
Ada aku yang ingin pelan-pelan, tapi tetap takut tertinggal.
Ada aku yang ingin dimengerti, tapi sering kali lebih dulu mencoba memahami orang lain.
Ada aku yang terlalu mudah memberi, sampai lupa bahwa kebaikan juga tetap perlu batas.
Ada aku yang terlalu mudah percaya, sampai lupa bahwa tidak semua orang datang dengan ketulusan yang sama.

Dan jujur, tidak semua versi itu mudah untuk diterima.

Ada beberapa bagian dari diriku yang dulu mungkin sering aku salahkan. Kenapa terlalu peka. Kenapa terlalu percaya. Kenapa terlalu banyak berpikir. Kenapa susah sekali untuk benar-benar santai. Kenapa kadang tahu harus melakukan apa, tapi tetap merasa berat untuk memulainya.

Tapi mungkin, semua versi itu tetap layak diterima.

Karena mereka semua pernah membantuku bertahan. Mereka semua pernah menjadi caraku melewati hari-hari yang tidak selalu mudah. Mereka semua, dengan segala bingung dan rapuhnya, tetap membawaku sampai di sini.

Ke usia 35.

Usia yang mungkin belum membuat semuanya selesai, tapi membuatku sadar bahwa aku ingin hidup dengan cara yang lebih pas untuk diriku sendiri.

Lebih pelan, tapi tetap bergerak.
Lebih lembut, tapi tetap punya batas.
Lebih jujur, tapi tidak harus menjelaskan semuanya ke semua orang.
Lebih sadar bahwa hidupku tidak harus selalu terlihat rapi untuk tetap berarti.

Untuk usia 35, aku tidak ingin membuat terlalu banyak janji besar.

Aku hanya ingin lebih hadir untuk diriku sendiri.
Lebih menjaga tubuhku.
Lebih mendengarkan hatiku.
Lebih memilih hal-hal yang membuatku merasa tenang, bukan hanya terlihat baik dari luar.
Lebih berani mengatakan cukup.
Lebih berani memulai lagi, meskipun pelan.

Kalau usia 34 banyak mengajarkanku tentang bertahan, mungkin usia 35 akan mengajarkanku tentang hidup dengan lebih sadar.

Tidak harus selalu kuat.
Tidak harus selalu tahu jawabannya.
Tidak harus selalu cepat.

Cukup menjadi aku, satu hari demi satu hari.

Dan hari ini, sebelum genap 35, aku ingin mengucapkan terima kasih pada diriku sendiri.

Untuk semua hal yang sudah dilewati.
Untuk semua hal yang belum selesai.
Untuk semua hal yang masih terus diusahakan.

Besok aku 35.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin buru-buru memahami semuanya.

Aku hanya ingin menyambutnya dengan hati yang lebih lapang. Tanpa perayaan. Tanpa birthday trip panjang.

Cheers (even if it’s bitter),

TDS
(still figuring it out, but writing it down along the way)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Threads
Share on WhatsApp
Related posts
Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment