Ada satu hal yang sebenarnya sering terjadi dalam hidup sehari-hari: banyak orang berusaha keras menjaga perasaan orang lain.. memilih kata, menahan nada, menghindari konflik kecil.. sementara nggak semua orang melakukan hal yang sama.
Kadang seseorang sangat hati-hati saat bicara, tapi menerima respon yang dingin, kaku, atau sarkas tanpa pikir panjang.
Bukan karena orang lain jahat, cuma.. ngga semua orang punya tingkat kepekaan atau empati yang sama. Kapasitas emosional setiap orang memang berbeda.
Menariknya, sering kali yang bikin seseorang kepikiran itu bukan karena respon orang lain benar-benar “buruk”, tapi karena energinya lagi habis.
Kondisi itu bikin seseorang jadi lebih sensitif; energi negatif sekecil apa pun dari lawan bicara gampang banget terserap, sementara energi positifnya sudah nggak tersisa.
Di momen seperti itu, hal-hal kecil yang biasanya lewat begitu saja bisa terasa jauh lebih mengganggu dari seharusnya.
Tapi ada juga sisi lain yang jarang disadari: nggak semua orang perlu diperlakukan dengan “kedalaman” yang sama.
Ada orang yang bisa nyambung tanpa penjelasan panjang, ada yang peka membaca vibe, ada yang tetap hangat dalam percakapan sederhana.
Orang-orang seperti itu biasanya bikin komunikasi terasa jauh lebih ringan.
Pada akhirnya, monolog ini cuma mengingatkan satu hal:
menjaga perasaan orang itu baik, tapi tidak semua orang akan atau mampu melakukan hal yang sama.
Dan itu bukan kesalahan siapa-siapa.
Kadang hanya soal beda frekuensi. Beda cara paham. Beda kapasitas.
Yang penting adalah tahu kapan harus memberi penuh, kapan memberi seperlunya, dan kapan melepas hal-hal kecil agar tidak menguras energi sendiri.
Baca juga: Trust Issue Part 2: Selfishness
Cheers (even if it’s bitter),
TDS
(still learning to choose my energy wisely)











