Trust Issue Part 4 : Hidup yang Kita Jalani Hari Ini, Katanya Doa Kita yang Dulu

Ada kalimat-kalimat yang terdengar indah ketika dibaca,
tapi terasa berbeda ketika dipikirkan lebih lama.

Kemarin aku membaca satu kalimat di IG Story seseorang. Entah dia sedang membahas apa, tapi satu kalimat itu langsung membuatku berhenti sejenak.

Katanya:

“Hidup yang kita jalani hari ini adalah hidup yang dulu kita doakan.”

Kalimat itu terdengar indah. Hampir seperti pengingat sederhana untuk bersyukur. Seolah hidup yang kita jalani sekarang adalah jawaban dari harapan-harapan yang dulu pernah kita panjatkan.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

Lalu tanpa sadar mulai bertanya pada diriku sendiri:

“Benarkah hidup yang kita jalani hari ini benar-benar doa kita yang dulu?”

Realitanya, tidak ada orang yang berdoa untuk kegagalan.

Tidak ada yang bangun suatu malam lalu berdoa,

“Tuhan, semoga suatu hari aku gagal”

Kalau ada yang pernah berdoa seperti itu.. mungkin kita perlu ngobrol sebentar.

Tidak ada yang berharap untuk merasakan kehilangan. Tidak ada yang meminta hidupnya berbelok ke arah yang tidak pernah direncanakan.

Dan kalau aku mencoba menarik hidupku sedikit ke belakang, mengingat perjalanan yang sudah pernah terjadi.. aku tidak pernah ingat pernah meminta semua hal itu terjadi.

Tidak semua hal dalam hidup pernah kita doakan.

 

Hidup Tidak Selalu Sesederhana Sebuah Kalimat

Mungkin memang manusia suka menyederhanakan hidup lewat kalimat-kalimat yang terdengar indah. Karena hidup yang sebenarnya seringkali terlalu rumit untuk dijelaskan.

Quote motivasi selalu terdengar rapi.

Tapi hidup jarang berjalan serapi itu.

Mungkin bukan kalimatnya yang salah.

Mungkin hanya saja hidup manusia terlalu luas untuk dijelaskan dengan satu kalimat motivasi seperti “hidup hari ini adalah doa kita yang dulu“.

 

Hidup Lebih Mirip Rangkaian Pilihan

Karena kenyataannya, hidup bukan hanya tentang doa yang dikabulkan.

Menurutku hidup lebih mirip rangkaian pilihan.

Kita dilahirkan karena pilihan orang tua kita. Kita tumbuh dengan pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap hari.

Memilih sekolah.

Memilih teman.

Memilih percaya pada seseorang.

Memilih mengambil suatu kesempatan.

Dan seiring waktu, pilihan-pilihan itu mulai saling terhubung, membentuk jalan hidup yang kita jalani hari ini.

Kadang pilihan itu membawa kita ke tempat yang kita harapkan.

Kadang juga tidak.

Kadang kita membuat pilihan dengan keyakinan penuh, tapi ternyata jalan yang terbuka justru berbeda dari yang kita bayangkan.

Dan anehnya, bahkan hal-hal buruk yang terjadi dalam hidup pun seringkali tetap memiliki jejak pilihan di dalamnya.

Bukan kebetulan.

Melainkan rangkaian keputusan yang akhirnya membawa kita sampai di titik tertentu.

Bukan berarti kita harus menyalahkan diri sendiri atas semua hal buruk yang pernah terjadi.

Tapi mungkin ini hanya cara hidup mengingatkan bahwa perjalanan manusia memang tidak pernah sepenuhnya rapi.

Jadi ketika seseorang mengatakan bahwa hidup yang kita jalani hari ini adalah doa kita yang dulu, aku tidak sepenuhnya bisa percaya.

Bukan karena aku tidak bersyukur.

Justru sebaliknya.

Aku sangat bersyukur untuk banyak hal dalam hidupku.

Tapi bersyukur tidak berarti kita harus berpura-pura bahwa semua yang terjadi dalam hidup adalah sesuatu yang pernah kita minta.

Beberapa hal memang kita harapkan.

Beberapa hal kita perjuangkan.

Tapi beberapa lainnya hanyalah bagian dari perjalanan yang tidak pernah kita rencanakan.

Dan mungkin.. itu juga tidak apa-apa.

Karena pada akhirnya hidup bukan tentang semua doa yang selalu terkabul.

Mungkin hidup hanyalah rangkaian pilihan. Pilihan yang kita buat, pilihan yang dibuat orang lain sebelum kita, dan pelajaran yang diam-diam muncul di sepanjang jalan.

 

Cheers (even if it’s bitter),

TDS
(Masih mencoba berdamai dengan hal-hal dalam hidup yang tidak pernah aku doakan).

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Threads
Share on WhatsApp
Related posts
Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment